Jakarta – Mangrove Data. Ekosistem mangrove memiliki kemampuan unik dalam menyimpan karbon dalam jumlah besar, menjadikannya komponen kunci dalam upaya mitigasi perubahan iklim global. Kemampuan ini didasarkan pada proses alami yang terjadi baik di atas permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah.
Secara umum, mangrove menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Karbon ini kemudian disimpan dalam jaringan tanaman seperti daun, batang, dan akar. Seiring waktu, sebagian besar biomassa mangrove—khususnya akar yang kompleks—jatuh dan tertimbun di dalam tanah jenuh air, yang minim oksigen.
Tanah mangrove yang anaerob (minim oksigen) menciptakan kondisi yang memperlambat proses dekomposisi. Hal ini menyebabkan karbon yang tersimpan dalam bahan organik tanah tetap stabil selama ratusan hingga ribuan tahun. Inilah yang membedakan mangrove dari ekosistem hutan daratan biasa.
Lebih dari 80% cadangan karbon pada ekosistem mangrove justru tersimpan di dalam tanah, bukan pada vegetasinya. Oleh karena itu, keberlanjutan fungsi ekosistem mangrove sangat bergantung pada kelestarian substrat tanahnya. Ketika tanah mangrove terganggu—misalnya akibat reklamasi atau pengeringan lahan—karbon yang selama ini tersimpan dapat dilepaskan kembali ke atmosfer dalam bentuk emisi gas rumah kaca.
Mangrove yang sehat tidak hanya menyimpan karbon dalam jumlah besar, tetapi juga terus menyerapnya melalui pertumbuhan tahunan. Oleh karena itu, restorasi dan konservasi hutan mangrove merupakan strategi berbasis alam (nature-based solution) yang sangat efektif dalam menghadapi krisis iklim.
Dengan memahami proses penyimpanan karbon ini, data dan informasi yang akurat menjadi penting sebagai dasar perencanaan konservasi. Mangrove Data berkomitmen menyediakan sumber informasi terpercaya yang dapat digunakan oleh peneliti, pengambil kebijakan, maupun masyarakat dalam mendukung pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. (ADM).



