Data biodiversitas mangrove untuk pengelolaan ekosistem

Bagaimana Data Biodiversitas Digunakan dalam Pengelolaan Mangrove?

Semarang – Mangrove Data. Data biodiversitas mangrove digunakan untuk memahami siapa yang hidup di dalam ekosistem, bagaimana komunitas organisme tersusun, bagaimana kondisinya berubah, dan bagian kawasan mana yang memiliki nilai ekologis penting untuk dilindungi atau dipulihkan. Data tersebut tidak hanya berupa daftar spesies mangrove, burung, ikan, kepiting, moluska, atau organisme lainnya. Informasi mengenai jumlah individu, kelimpahan, distribusi, komposisi komunitas, kelompok fungsional, kondisi habitat, serta perubahan antarwaktu dapat mengubah inventarisasi biodiversitas menjadi dasar pengambilan keputusan pengelolaan.

Konvensi Keanekaragaman Hayati atau Convention on Biological Diversity (CBD) mendefinisikan biodiversitas sebagai variasi organisme hidup yang mencakup keragaman di dalam spesies, antarspesies, dan ekosistem. Dalam konteks mangrove, definisi tersebut penting karena pengelolaan tidak seharusnya hanya berfokus pada jumlah jenis pohon. Ekosistem mangrove juga memiliki komunitas fauna, mikroorganisme, benthos, serta hubungan ekologis dengan perairan dan habitat di sekitarnya. Penelitian menunjukkan bahwa degradasi mangrove dapat diikuti perubahan keanekaragaman bentik sekaligus penurunan beberapa proses ekosistem, sehingga data biodiversitas dapat memberikan informasi yang tidak terlihat hanya dari luas tutupan atau jumlah pohon.

Apa yang Dimaksud dengan Data Biodiversitas Mangrove?

Data biodiversitas merupakan informasi mengenai variasi organisme dan struktur komunitas biologis pada suatu lokasi dan waktu tertentu. Pada tingkat paling sederhana, data dapat berupa daftar spesies yang ditemukan. Namun, untuk kepentingan pengelolaan, informasi tersebut biasanya menjadi lebih berguna ketika dilengkapi dengan jumlah individu, frekuensi kemunculan, lokasi, waktu pengamatan, habitat, serta metode survei.

Dalam ekosistem mangrove, objek pengamatan dapat mencakup vegetasi mangrove, tumbuhan asosiasi, burung, ikan, krustasea, moluska, benthos, plankton, serangga, reptil, mamalia, hingga mikroorganisme sesuai tujuan kajian. Tidak semua program perlu mengukur seluruh kelompok tersebut. Kelompok organisme yang dipilih harus berkaitan dengan pertanyaan pengelolaan yang ingin dijawab, bukan sekadar memperpanjang daftar parameter.

Jika tujuan program adalah memahami fungsi mangrove sebagai habitat perikanan, data ikan dan invertebrata dapat memperoleh perhatian lebih besar. Jika fokusnya perlindungan habitat burung, metode dan periode survei perlu dirancang untuk kelompok tersebut. Jika program ingin mengevaluasi pemulihan fungsi dasar sedimen, komunitas bentik dapat memberikan informasi yang berbeda dari data vegetasi.

Daftar Spesies Saja Belum Cukup

Mengetahui bahwa suatu lokasi memiliki 35 spesies memang memberikan informasi mengenai kekayaan jenis atau species richness. Namun, angka tersebut belum menjelaskan apakah seluruh spesies memiliki kelimpahan yang relatif seimbang, apakah satu atau dua spesies mendominasi, apakah terdapat spesies yang hanya ditemukan pada bagian tertentu, atau apakah komposisinya berubah dibandingkan kondisi sebelumnya.

Karena itu, data biodiversitas dapat mencakup beberapa dimensi seperti kekayaan spesies, kelimpahan, komposisi komunitas, distribusi spasial, frekuensi kemunculan, dan perubahan temporal. Dalam analisis tertentu, data tersebut kemudian dirangkum menggunakan indeks keanekaragaman atau pendekatan statistik lainnya. CBD sendiri menjelaskan bahwa indikator biodiversitas berfungsi sebagai alat informasi untuk merangkum isu lingkungan yang kompleks sehingga status dan tren biodiversitas dapat dipahami dan digunakan untuk menentukan tindakan.

Namun, indeks tidak seharusnya menggantikan data dasarnya. Dua lokasi dapat menghasilkan nilai indeks keanekaragaman yang mirip tetapi memiliki komposisi spesies yang sangat berbeda. Angka ringkas perlu dibaca bersama identitas spesies, kelimpahan, kondisi habitat, dan tujuan pengelolaan.

Data Biodiversitas Membentuk Baseline Kondisi Ekosistem

Salah satu fungsi pertama data biodiversitas adalah membangun baseline. Sebelum suatu program konservasi atau rehabilitasi dilakukan, perlu diketahui organisme apa yang sudah terdapat di lokasi dan bagaimana komunitasnya tersusun. Data tersebut kemudian menjadi pembanding ketika monitoring dilakukan pada periode berikutnya.

Misalnya, survei awal menemukan 18 spesies burung, 12 spesies ikan, dan beberapa kelompok makrobenthos pada sebuah kawasan. Dua atau tiga tahun setelah intervensi, survei dengan metodologi yang kompatibel dapat dilakukan kembali. Hasilnya kemudian dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat perubahan kekayaan spesies, kelimpahan, komposisi, atau distribusi.

Tanpa baseline, keberadaan banyak organisme setelah rehabilitasi belum otomatis membuktikan bahwa biodiversitas meningkat. Kita perlu mengetahui kondisi sebelum intervensi agar perubahan dapat diukur, sekaligus memperhatikan bahwa perubahan tersebut dapat dipengaruhi oleh musim, kondisi lingkungan, dan faktor lain di luar program.

Data Biodiversitas Membantu Menilai Kondisi Habitat

Komunitas organisme dapat merespons perubahan habitat. Karena itu, perbedaan biodiversitas antara lokasi yang relatif tidak terganggu dan lokasi yang terdegradasi dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi ekologis kawasan. Dalam penelitian Carugati et al., kawasan mangrove terganggu menunjukkan kekayaan taksa meiofauna yang lebih rendah dibandingkan kawasan yang tidak terganggu, serta perubahan pada biomassa dan proses yang berkaitan dengan penguraian bahan organik.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi vegetasi dan kondisi komunitas fauna tidak selalu dapat dipisahkan. Sebuah kawasan mungkin masih memiliki pohon mangrove tetapi telah mengalami perubahan kualitas substrat, sumber makanan, atau struktur mikrohabitat yang kemudian tercermin dalam komunitas organisme yang hidup di dalamnya.

Dalam praktik pengelolaan, perubahan biodiversitas perlu dianalisis bersama data lain seperti vegetasi, salinitas, hidrologi, kualitas air, substrat, penggunaan lahan, dan tekanan manusia. Biodiversitas dapat membantu menunjukkan bahwa sesuatu berubah, tetapi penyebabnya tetap perlu dianalisis melalui kombinasi berbagai data.

Data Biodiversitas untuk Menentukan Area Prioritas Konservasi

Tidak semua bagian kawasan memiliki nilai biodiversitas yang sama. Beberapa lokasi dapat menjadi habitat spesies tertentu, tempat mencari makan, area pembesaran ikan, lokasi berkumpulnya burung, atau memiliki kombinasi spesies yang tidak banyak ditemukan pada bagian lain. Jika informasi tersebut memiliki koordinat, data biodiversitas dapat dipetakan menjadi lapisan spasial untuk mendukung prioritas perlindungan.

Pendekatan ini dapat menggabungkan peta biodiversitas dengan tutupan mangrove, karbon, perlindungan pesisir, penggunaan lahan, dan jasa ekosistem lainnya. Analisis global Dabalà et al. menunjukkan bahwa data biodiversitas dan jasa ekosistem mangrove dapat digunakan bersama untuk mengidentifikasi kawasan yang memberikan manfaat konservasi yang lebih besar daripada melihat salah satu komponen secara terpisah.

Sievers et al. juga menggabungkan dataset biodiversitas yang terkait dengan mangrove, stok karbon, produksi ikan dan invertebrata, serta perlindungan pesisir untuk mengidentifikasi peluang, sinergi, dan potensi trade-off dalam perencanaan konservasi. Hal ini menunjukkan bahwa data biodiversitas bukan hanya untuk laporan inventarisasi, tetapi dapat masuk langsung ke proses penentuan lokasi prioritas.

Biodiversitas Membantu Menghindari Pengelolaan yang Terlalu Berorientasi pada Luas

Luas mangrove merupakan indikator penting, tetapi peningkatan luas tidak otomatis berarti seluruh komponen ekosistem telah pulih. Sebuah kawasan hasil rehabilitasi dapat memiliki tutupan vegetasi yang semakin luas, sementara struktur habitat dan komunitas fauna masih berkembang.

Data biodiversitas membantu melengkapi indikator luas dengan pertanyaan yang berbeda: apakah organisme mulai menggunakan habitat tersebut, apakah komunitas semakin menyerupai lokasi referensi, dan apakah fungsi ekologis tertentu mulai kembali?

Kitchingman et al. membandingkan penggunaan habitat oleh ikan pada mangrove restorasi dan mangrove alami di Australia. Mereka menemukan bahwa beberapa spesies ikan umum telah menggunakan kawasan restorasi, bahkan pada lokasi yang vegetasinya masih relatif muda, serta menekankan pentingnya memasukkan respons fauna dalam evaluasi hasil restorasi.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan ekosistem tidak selalu mengikuti satu indikator secara linear. Vegetasi, fauna, hidrologi, dan fungsi ekosistem dapat memiliki kecepatan pemulihan yang berbeda.

Data Ikan Membantu Membaca Fungsi Habitat Perairan

Mangrove berinteraksi langsung dengan sistem estuari dan pesisir. Karena itu, data ikan dapat digunakan untuk memahami bagaimana suatu kawasan digunakan sebagai habitat. Informasi yang dapat dicatat antara lain spesies, jumlah individu, ukuran, biomassa, lokasi, waktu, dan pola penggunaan zona mangrove.

Data tersebut dapat membantu membedakan apakah area tertentu banyak digunakan ikan pada zona tepi, saluran, atau bagian interior yang tergenang. Dalam studi Kitchingman et al., penggunaan zona fringe dan interior oleh beberapa spesies ikan dianalisis pada pasangan lokasi mangrove restorasi dan alami, menunjukkan bagaimana informasi fauna dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi mengenai desain dan evaluasi restorasi.

Untuk program yang memiliki tujuan mendukung perikanan, informasi semacam ini jauh lebih relevan dibandingkan hanya mengukur jumlah pohon. Namun, data ikan juga sangat dipengaruhi oleh metode, pasang surut, waktu pengamatan, musim, dan konektivitas habitat, sehingga desain monitoring harus dibuat konsisten.

Benthos Dapat Memberikan Informasi mengenai Kondisi Sedimen

Organisme bentik hidup di atau dekat substrat dan memiliki hubungan erat dengan kondisi sedimen. Kelompok ini dapat memberikan informasi mengenai perubahan lingkungan yang mungkin tidak terlihat dari pengamatan vegetasi. Carugati et al. menggunakan meiofauna untuk membandingkan kawasan mangrove terganggu dan tidak terganggu serta menemukan perbedaan nyata pada kekayaan taksa, kelimpahan, dan sejumlah indikator fungsi ekosistem.

Karena organisme bentik berinteraksi langsung dengan bahan organik, sedimen, dan rantai makanan, perubahan komunitasnya dapat memberikan konteks mengenai kondisi dasar ekosistem. Namun, identifikasi kelompok bentik dapat membutuhkan keahlian, waktu laboratorium, dan metode sampling yang lebih khusus.

Artinya, benthos tidak harus menjadi indikator wajib untuk setiap program mangrove. Penggunaannya perlu dipilih ketika informasi yang dihasilkan memang berkaitan dengan tujuan monitoring atau pertanyaan pengelolaan.

Data Burung Dapat Menunjukkan Nilai Habitat yang Berbeda

Burung sering menjadi salah satu kelompok yang relatif mudah diamati dibandingkan banyak organisme lain, tetapi hasil surveinya tetap perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Kehadiran spesies tertentu dapat berkaitan dengan ketersediaan tempat bertengger, mencari makan, mudflat terbuka, kolam, pohon tinggi, atau habitat lain yang berada dalam satu lanskap pesisir.

Karena itu, jumlah spesies burung yang tinggi tidak selalu berarti seluruh area harus diubah menjadi tegakan mangrove yang lebih rapat. Beberapa spesies justru menggunakan mosaik habitat, termasuk mudflat dan perairan terbuka. Data biodiversitas dapat membantu mencegah pendekatan rehabilitasi yang terlalu sederhana dengan menganggap setiap ruang terbuka di pesisir sebagai lahan kosong yang harus ditanami.

Dalam konteks pengelolaan, informasi burung menjadi lebih kuat jika setiap pengamatan memiliki koordinat, tipe habitat, waktu, dan perilaku yang dicatat. Dengan demikian, data tidak hanya menjelaskan spesies apa yang ditemukan, tetapi juga bagian kawasan mana yang memiliki fungsi bagi spesies tersebut.

Spesies Penting Membutuhkan Perhatian Lebih dari Sekadar Jumlah

Pengelolaan biodiversitas tidak selalu dapat menggunakan pendekatan “semakin banyak spesies semakin baik”. Beberapa lokasi mungkin memiliki jumlah spesies lebih rendah tetapi menjadi habitat penting bagi spesies yang langka, terancam, endemik, atau memiliki fungsi ekologis tertentu.

Karena itu, analisis dapat memisahkan antara kekayaan total spesies dan nilai konservasi spesies yang ditemukan. Informasi status konservasi, sebaran, tingkat kelangkaan, dan ketergantungan terhadap habitat dapat digunakan bersama data lapangan untuk menentukan prioritas.

Pendekatan perencanaan konservasi global juga menunjukkan bahwa representasi spesies perlu diperhatikan, bukan hanya luas kawasan yang dilindungi. Dabalà et al. menemukan bahwa jaringan kawasan lindung mangrove yang ada belum merepresentasikan seluruh target konservasi spesies mangrove secara memadai, sehingga lokasi perlindungan perlu diprioritaskan secara lebih strategis.

Data Biodiversitas Membantu Mengevaluasi Rehabilitasi

Keberhasilan rehabilitasi sering dilaporkan melalui survival rate, tinggi tanaman, atau luas tutupan. Indikator tersebut menjelaskan perkembangan vegetasi tetapi belum sepenuhnya menunjukkan apakah habitat telah kembali digunakan oleh organisme lain.

Data biodiversitas dapat ditambahkan secara bertahap. Pada fase awal, monitoring mungkin fokus pada vegetasi dan kondisi habitat. Ketika tegakan berkembang, pengamatan fauna dapat mulai memperlihatkan bagaimana komunitas organisme merespons perubahan struktur kawasan.

Penelitian terhadap ikan di mangrove restorasi menunjukkan mengapa indikator fauna dapat menghasilkan informasi yang berbeda dari indikator vegetasi. Pada studi tersebut, beberapa populasi ikan telah menggunakan lokasi restorasi muda walaupun kompleksitas vegetasinya masih jauh lebih rendah dibandingkan lokasi alami. Hal ini mengingatkan bahwa keberhasilan ekosistem perlu dibaca melalui beberapa indikator, bukan melalui satu urutan pemulihan yang diasumsikan berlaku di semua tempat.

Bandingkan dengan Lokasi Referensi

Monitoring biodiversitas akan lebih bermakna apabila terdapat lokasi referensi yang sesuai. Kawasan mangrove alami atau relatif tidak terganggu dengan kondisi geomorfologi serupa dapat memberikan gambaran mengenai struktur komunitas yang mungkin berkembang pada lokasi rehabilitasi.

Namun, tujuan restorasi tidak harus selalu menghasilkan komposisi identik dengan lokasi referensi. Faktor sejarah, perubahan bentang pesisir, iklim, konektivitas, dan penggunaan lahan dapat membuat kondisi masa depan berbeda. Lokasi referensi terutama membantu memberikan konteks mengenai rentang kondisi ekologis yang lebih berfungsi.

Pendekatan perbandingan antara lokasi restorasi dan alami digunakan dalam penelitian mangrove untuk mengevaluasi respons fauna, termasuk ikan. Penelitian lain yang membandingkan mangrove terganggu dan tidak terganggu juga menunjukkan bahwa perbedaan kondisi habitat dapat tercermin pada biodiversitas bentik serta fungsi ekosistem.

Biodiversitas Harus Dibaca Bersama Kondisi Lingkungan

Jika jumlah suatu spesies menurun, kesimpulan tidak boleh langsung menyatakan bahwa program gagal. Perubahan dapat dipengaruhi salinitas, musim, curah hujan, kualitas air, pasang surut, sedimentasi, aktivitas manusia, atau perubahan pada habitat lain di sekitar kawasan.

Karena itu, data biodiversitas idealnya terhubung dengan tanggal, koordinat, kondisi habitat, metode, dan parameter lingkungan relevan. Jika perubahan komunitas terjadi bersamaan dengan perubahan salinitas atau substrat, hubungan tersebut dapat dianalisis lebih lanjut.

Pendekatan ini mengubah monitoring dari sekadar “menghitung spesies” menjadi proses memahami mengapa komunitas biologis berubah. Carugati et al., misalnya, tidak hanya membandingkan biodiversitas bentik tetapi juga menganalisis variabel sedimen dan indikator fungsi ekosistem antara kawasan terganggu dan tidak terganggu.

Metode Pengumpulan Harus Konsisten

Data biodiversitas sangat sensitif terhadap metode. Jumlah burung yang tercatat dapat berubah karena lama pengamatan dan waktu survei. Data ikan dapat berbeda karena alat tangkap atau kamera, fase pasang surut, musim, dan posisi sampling. Data benthos dipengaruhi ukuran sampel, kedalaman pengambilan, penyaringan, dan kemampuan identifikasi.

Karena itu, perubahan metode dapat terlihat seperti perubahan biodiversitas. Jika baseline menggunakan survei burung dua jam pada pagi hari tetapi monitoring berikutnya dilakukan selama 30 menit pada siang hari, perbandingan hasil menjadi lemah. Hal serupa berlaku jika ukuran plot vegetasi atau teknik sampling benthos berubah.

Setiap dataset biodiversitas sebaiknya memiliki metadata mengenai metode, lokasi, tanggal, waktu, intensitas sampling, jumlah pengulangan, dan identitas pengamat atau tim apabila relevan. Konsistensi tersebut membuat data antarperiode lebih dapat dibandingkan.

Gunakan Data Spasial untuk Melihat Distribusi Biodiversitas

Daftar spesies dapat dikembangkan menjadi informasi yang jauh lebih kuat ketika setiap observasi memiliki koordinat. Titik kemunculan dapat dipetakan bersama vegetasi, saluran, mudflat, tambak, garis pantai, atau zona rehabilitasi.

Hasilnya dapat memperlihatkan bahwa spesies tertentu terkonsentrasi pada zona tertentu atau bahwa bagian kawasan memiliki kekayaan spesies lebih tinggi. Informasi semacam ini dapat membantu menentukan zona perlindungan, area monitoring intensif, koridor habitat, atau bagian kawasan yang perlu dipertahankan dari perubahan penggunaan lahan.

Pada skala yang lebih luas, penelitian Sievers et al. dan Dabalà et al. menunjukkan bagaimana data spasial biodiversitas dapat digabungkan dengan berbagai jasa ekosistem untuk mendukung perencanaan konservasi mangrove.

Jangan Menganggap Semua Ruang Tanpa Mangrove sebagai Habitat Buruk

Data biodiversitas juga penting untuk mencegah salah interpretasi terhadap area terbuka. Mudflat, saluran pasang surut, kolam, dan mosaik habitat lain dapat memiliki fungsi bagi organisme yang berbeda. Karena itu, tujuan pengelolaan tidak selalu harus memaksimalkan persentase tutupan pohon pada seluruh bentang pesisir.

Jika inventarisasi menunjukkan area terbuka digunakan secara intensif oleh kelompok fauna tertentu, informasi tersebut perlu masuk ke desain rehabilitasi. Restorasi ekosistem seharusnya memulihkan fungsi dan proses ekologis, bukan sekadar mengubah sebanyak mungkin ruang menjadi tegakan pohon.

Prinsip ini juga menunjukkan mengapa biodiversitas harus diukur pada skala lanskap. Banyak organisme bergerak antara mangrove, perairan, mudflat, padang lamun, terumbu, atau habitat pesisir lainnya. Data dari satu plot vegetasi saja tidak selalu cukup untuk memahami hubungan tersebut.

Biodiversitas Dapat Digabungkan dengan Data Karbon dan Jasa Ekosistem

Program mangrove semakin sering dikembangkan untuk tujuan karbon, perlindungan pesisir, atau ESG. Namun, lokasi dengan nilai karbon tinggi belum tentu secara otomatis merupakan lokasi dengan seluruh nilai biodiversitas tertinggi. Karena itu, memasukkan data biodiversitas dapat membantu melihat sinergi dan trade-off antar tujuan.

Sievers et al. memetakan hubungan antara biodiversitas mangrove, stok karbon, produksi ikan dan invertebrata, serta perlindungan pesisir. Analisis mereka menunjukkan bahwa lokasi yang memberikan beberapa manfaat sekaligus memang ada, tetapi pola keterkaitan antarjasa tidak selalu sama pada setiap negara dan lokasi.

Dabalà et al. juga menunjukkan bahwa strategi perlindungan yang mempertimbangkan biodiversitas sekaligus jasa ekosistem dapat digunakan untuk mengoptimalkan prioritas konservasi. Hal tersebut memberikan pelajaran penting: pengelolaan mangrove tidak perlu memilih antara biodiversitas dan manfaat manusia sejak awal; data dapat digunakan untuk mencari lokasi di mana tujuan tersebut dapat diperkuat bersama atau di mana kompromi perlu dikelola.

Data Sensitif Tidak Selalu Perlu Dibuka secara Penuh

Dalam pengelolaan basis data biodiversitas, transparansi penting tetapi tidak seluruh informasi harus dipublikasikan dengan tingkat detail yang sama. Koordinat presisi suatu spesies yang sangat langka atau rentan terhadap perburuan, misalnya, dapat membutuhkan pembatasan akses.

Basis data internal tetap dapat mempertahankan informasi koordinat lengkap untuk analisis, sedangkan data publik dapat disajikan dalam bentuk grid, wilayah administratif, atau resolusi yang lebih umum. Pendekatan tersebut membantu menjaga kegunaan data sekaligus mengurangi risiko terhadap objek konservasi.

Karena itu, manajemen data biodiversitas juga membutuhkan aturan akses, metadata, dokumentasi sumber, dan kualitas identifikasi, bukan hanya tabel daftar spesies.

Dari Inventarisasi Biodiversitas Menuju Keputusan Pengelolaan

Data biodiversitas mangrove menjadi bernilai ketika hasil survei dapat diterjemahkan menjadi keputusan. Daftar spesies dapat membantu membangun baseline. Kelimpahan dan komposisi dapat digunakan untuk monitoring. Koordinat dapat membantu memetakan habitat penting. Perbandingan antarperiode dapat menunjukkan perubahan. Informasi spesies prioritas dapat membantu menentukan zona perlindungan, sementara data fauna pada kawasan rehabilitasi dapat membantu menilai apakah fungsi habitat mulai berkembang.

Namun, biodiversitas tidak seharusnya dibaca sendirian. Informasi tersebut perlu dihubungkan dengan vegetasi, hidrologi, salinitas, substrat, tekanan, penggunaan lahan, tutupan spasial, serta tujuan pengelolaan. Penelitian menunjukkan bahwa degradasi mangrove dapat berkaitan dengan perubahan biodiversitas sekaligus fungsi ekosistem, sementara kawasan restorasi dapat mulai menyediakan fungsi habitat bagi fauna bahkan sebelum struktur vegetasinya menyamai hutan alami.

Dengan pendekatan tersebut, pertanyaan pengelolaan tidak lagi berhenti pada “berapa spesies yang ditemukan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: spesies apa yang ditemukan, di mana mereka berada, bagaimana kelimpahannya berubah, habitat apa yang mereka gunakan, apakah komunitas bergerak menuju kondisi yang diharapkan, dan tindakan pengelolaan apa yang perlu dilakukan berdasarkan perubahan tersebut?

Inilah fungsi utama data biodiversitas mangrove: mengubah keberadaan organisme menjadi informasi mengenai kondisi, perubahan, fungsi habitat, dan prioritas pengelolaan ekosistem. (ADM).

Daftar Pustaka

Carugati, L., Gatto, B., Rastelli, E., Lo Martire, M., Coral, C., Greco, S., & Danovaro, R. (2018). Impact of Mangrove Forests Degradation on Biodiversity and Ecosystem Functioning. Scientific Reports, 8, 13298. DOI: 10.1038/s41598-018-31683-0.

Convention on Biological Diversity (CBD). (1992). Convention on Biological Diversity, Article 2: Use of Terms. United Nations.

Dabalà, A., Dahdouh-Guebas, F., Dunn, D. C., Everett, J. D., Lovelock, C. E., Hanson, J. O., Buenafe, K. C. V., Neubert, S., & Richardson, A. J. (2023). Priority Areas to Protect Mangroves and Maximise Ecosystem Services. Nature Communications, 14, 5863. DOI: 10.1038/s41467-023-41333-3.

Kitchingman, M. E., Sievers, M., Lopez-Marcano, S., & Connolly, R. M. (2022). Fish Use of Restored Mangroves Matches That in Natural Mangroves Regardless of Forest Age. Restoration Ecology. DOI: 10.1111/rec.13806.

Sievers, M., Brown, C. J., McGowan, J., Turschwell, M. P., Buelow, C. A., Holgate, B., Pearson, R. M., et al. (2023). Co-occurrence of Biodiversity, Carbon Storage, Coastal Protection, and Fish and Invertebrate Production to Inform Global Mangrove Conservation Planning. Science of the Total Environment, 904, 166357. DOI: 10.1016/j.scitotenv.2023.166357.

Scroll to Top