Semarang – Mangrove Data. Stok karbon mangrove adalah jumlah karbon yang tersimpan dalam ekosistem pada suatu waktu, sedangkan serapan karbon mangrove berkaitan dengan penambahan atau perubahan karbon yang terjadi selama periode tertentu. Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi sangat penting karena kedua istilah tersebut sering dicampur dalam laporan rehabilitasi, perhitungan karbon, komunikasi ESG, hingga klaim carbon offset. IPCC membedakan secara jelas antara carbon stock dalam suatu carbon pool dan carbon stock change yang digunakan untuk menghitung perubahan karbon serta emisi atau serapan dari waktu ke waktu.
Sebagai gambaran sederhana, sebuah kawasan mangrove dapat memiliki stok karbon sebesar ratusan ton karbon per hektare. Angka tersebut menunjukkan berapa banyak karbon yang tersimpan, bukan berapa banyak karbon yang diserap setiap tahun. Untuk mengetahui serapan atau akumulasi karbon, diperlukan dimensi waktu: kondisi awal dibandingkan dengan kondisi berikutnya, atau digunakan metode lain yang memang dirancang untuk mengestimasi laju perubahan karbon. Prinsip pengukuran stok dan faktor emisi pada ekosistem mangrove juga menjadi dasar dalam Coastal Blue Carbon Manual.
Apa Itu Stok Karbon Mangrove?
Stok karbon mangrove atau mangrove carbon stock adalah jumlah karbon yang terdapat pada satu atau beberapa kompartemen karbon dalam ekosistem pada saat tertentu. Stok dapat dinyatakan sebagai massa karbon total, misalnya ton C, atau sebagai kepadatan stok karbon per satuan luas, seperti Mg C/ha atau ton C/ha. Dalam panduan IPCC untuk lahan basah pesisir, kompartemen yang relevan mencakup biomassa mangrove, bahan organik mati seperti kayu mati dan serasah, serta karbon tanah.
Pada vegetasi hidup, karbon tersimpan dalam biomassa di atas permukaan tanah seperti batang, cabang, dan daun, serta biomassa di bawah tanah terutama akar. Bagian tanah juga sangat penting pada mangrove karena kondisi tergenang dapat memungkinkan akumulasi bahan organik dalam jangka panjang. IPCC menyediakan metode berbeda untuk mengestimasi perubahan stok biomassa mangrove dan memperlakukan karbon tanah sebagai pool tersendiri dalam inventaris gas rumah kaca lahan basah pesisir.
Studi lapangan Donato et al. pada mangrove Indo-Pasifik menunjukkan betapa besarnya kontribusi tanah terhadap total karbon ekosistem. Pada lokasi yang mereka kaji, mangrove rata-rata menyimpan sekitar 1.023 Mg C per hektare, dan karbon tanah menyumbang sekitar 49–98% dari total stok pada lokasi penelitian tersebut. Angka ini tidak boleh dianggap sebagai nilai universal untuk setiap mangrove karena stok sangat bervariasi menurut lokasi dan kondisi ekosistem.
Apa Itu Serapan Karbon Mangrove?
Istilah serapan karbon mangrove biasanya digunakan untuk menggambarkan proses ketika karbon dari atmosfer masuk dan kemudian tersimpan dalam komponen ekosistem melalui pertumbuhan vegetasi serta proses akumulasi karbon lainnya. Dalam konteks inventaris karbon, hal yang sangat penting bukan hanya jumlah karbon yang ada, tetapi perubahan stok karbon dari waktu ke waktu. IPCC menggunakan perubahan stok untuk mengestimasi emisi maupun removals dari ekosistem yang dikelola.
Dengan demikian, jika stok suatu pool bertambah dari satu periode ke periode berikutnya, terdapat peningkatan stok karbon. Sebaliknya, jika stok berkurang karena penebangan, konversi, penggalian, oksidasi tanah, atau gangguan lainnya, perubahan tersebut dapat berkaitan dengan pelepasan karbon. IPCC secara eksplisit menyediakan pendekatan Gain-Loss dan Stock-Difference untuk menghitung perubahan stok karbon dalam biomassa mangrove pada kondisi tertentu.
Secara konseptual, stok adalah besaran pada suatu titik waktu, sedangkan serapan atau akumulasi adalah proses atau laju perubahan selama interval waktu. Inilah alasan satuannya juga berbeda.
Perbedaan Satuan Stok dan Serapan Karbon
Perbedaan paling mudah terlihat melalui satuan.
Stok karbon:
500 ton C/ha
Angka tersebut berarti terdapat sekitar 500 ton karbon tersimpan per hektare pada batas carbon pool dan kedalaman tanah yang didefinisikan oleh pengukuran.
Sementara itu:
Laju perubahan atau akumulasi karbon:
6 ton C/ha/tahun
Angka tersebut memiliki unsur waktu. Artinya, stok karbon rata-rata meningkat sebesar 6 ton C per hektare setiap tahun selama periode yang dihitung.
IPCC membedakan stok karbon yang dinyatakan sebagai jumlah karbon dengan perubahan stok tahunan yang dinyatakan dalam massa karbon per tahun. Dalam sistem inventaris, perubahan stok tersebut kemudian dapat dikonversi ke satuan CO₂ untuk pelaporan emisi atau removals.
Karena itu, ketika menemukan angka seperti:
700 tC/ha
jangan membacanya sebagai:
“mangrove menyerap 700 ton karbon per hektare setiap tahun.”
Pernyataan tersebut mencampurkan stok dengan laju perubahan stok.
Analogi Rekening Bank: Saldo dan Pertambahan Saldo
Cara sederhana untuk membedakan keduanya adalah menggunakan analogi rekening bank.
Stok karbon seperti saldo rekening.
Misalnya pada 1 Januari saldo Anda Rp10 juta.
Serapan atau pertambahan stok seperti perubahan saldo dalam suatu periode.
Jika pada 31 Desember saldo menjadi Rp12 juta, pertambahannya adalah Rp2 juta selama satu tahun.
Mangrove bekerja dengan prinsip konseptual yang mirip. Mengetahui bahwa sebuah ekosistem menyimpan 500 ton C/ha hanya memberi tahu “saldo karbon” pada saat pengukuran. Untuk mengetahui perubahan, kita membutuhkan kondisi pada waktu lain atau metode yang dapat mengestimasi aliran masuk dan keluar karbon. Pendekatan berbasis perubahan stok merupakan bagian dari metode inventarisasi karbon IPCC.
Contoh Menghitung Perubahan Stok Karbon
Misalnya sebuah kawasan memiliki hasil pengukuran hipotetis:
Tahun 2026: 500 tC/ha
Kemudian dengan metode, batas pool, dan kedalaman tanah yang kompatibel:
Tahun 2036: 560 tC/ha
Maka perubahan stok selama sepuluh tahun adalah:
560 – 500 = 60 tC/ha
Jika untuk ilustrasi perubahan tersebut dirata-ratakan secara sederhana selama sepuluh tahun:
60 ÷ 10 = 6 tC/ha/tahun
Angka 500 tC/ha adalah stok awal. Angka 560 tC/ha adalah stok akhir. Angka 60 tC/ha adalah perubahan stok selama periode tersebut, sedangkan 6 tC/ha/tahun merupakan rata-rata perubahan tahunan pada contoh tersebut.
Namun, contoh ini bersifat ilustratif. Dalam perhitungan proyek nyata, metode sampling, ketidakpastian, perubahan area, sumber karbon, kehilangan karbon, kondisi tanah, serta batas sistem perlu diperhitungkan dengan pendekatan metodologis yang sesuai. IPCC menyediakan metode bertingkat untuk estimasi stok dan perubahannya karena kebutuhan data dan tingkat ketelitian dapat berbeda.
Mengapa Ton Karbon Berbeda dengan Ton CO₂?
Karbon sering dilaporkan dalam ton C, sedangkan manfaat iklim atau inventaris gas rumah kaca biasanya menggunakan ton CO₂ atau ton CO₂ ekuivalen.
Karbon merupakan unsur C, sedangkan karbon dioksida merupakan molekul CO₂ yang terdiri atas satu atom karbon dan dua atom oksigen. IPCC menggunakan rasio berat molekul 44/12 untuk mengonversi massa karbon menjadi massa CO₂.
Secara sederhana:
1 ton C × 44/12 ≈ 3,67 ton CO₂
Dengan contoh sebelumnya, perubahan rata-rata:
6 tC/ha/tahun
secara matematis setara dengan sekitar:
22 tCO₂/ha/tahun
jika perubahan karbon tersebut memang diperlakukan sebagai net carbon stock change yang relevan untuk konversi ke CO₂ dalam batas metodologi yang digunakan. IPCC juga menjelaskan bahwa kenaikan stok karbon diperlakukan sebagai removal dari perspektif inventaris, sedangkan kehilangan stok dapat menghasilkan emisi, dengan konversi C ke CO₂ menggunakan rasio 44/12.
Ton CO₂ Berbeda dengan Ton CO₂e
Istilah lain yang sering muncul adalah CO₂e atau karbon dioksida ekuivalen. CO₂e digunakan ketika beberapa jenis gas rumah kaca dibandingkan dalam satu satuan berdasarkan pengaruh pemanasannya.
Karena itu:
tC = massa unsur karbon.
tCO₂ = massa karbon dioksida.
tCO₂e = satuan ekuivalen untuk berbagai gas rumah kaca setelah faktor yang sesuai diterapkan.
Dalam ekosistem lahan basah pesisir, penghitungan gas rumah kaca tidak selalu terbatas pada CO₂. IPCC Wetlands Supplement juga memberikan panduan mengenai emisi non-CO₂ pada kondisi pengelolaan tertentu, termasuk CH₄.
Karena itu, penggunaan istilah tCO₂ dan tCO₂e sebaiknya tidak dipertukarkan tanpa mengetahui gas dan metodologi yang sedang dihitung.
Stok Karbon Tinggi Tidak Berarti Laju Serapannya Juga Tinggi
Ini merupakan salah satu kesalahan interpretasi paling penting.
Ekosistem mangrove tua dapat memiliki stok karbon yang sangat besar karena karbon telah terakumulasi selama waktu yang panjang. Namun, besarnya stok yang telah tersimpan tidak otomatis menunjukkan bahwa stok tersebut masih bertambah dengan laju yang sama besarnya setiap tahun.
Sebaliknya, kawasan mangrove yang sedang tumbuh atau direstorasi dapat memiliki stok total lebih rendah dibandingkan hutan tua, tetapi sedang mengalami peningkatan biomassa dan karbon secara aktif. IPCC AR6 mencatat bahwa laju sekuestrasi pada restorasi mangrove berubah seiring umur restorasi dan dipengaruhi oleh faktor seperti iklim, sedimen, serta metode restorasi.
Jadi, besar gudang karbon dan kecepatan mengisi gudang merupakan dua informasi berbeda.
Stok Karbon Mangrove Tidak Hanya Berada pada Pohon
Kesalahan berikutnya adalah menganggap stok karbon mangrove sama dengan karbon dalam batang pohon. Pendekatan tersebut dapat mengabaikan komponen yang sangat penting.
Untuk mangrove, kompartemen karbon dapat mencakup:
biomassa atas permukaan tanah, seperti batang, cabang, dan daun;
biomassa bawah permukaan tanah, terutama akar;
kayu mati dan serasah;
serta karbon organik tanah.
IPCC Wetlands Supplement memberikan panduan secara terpisah untuk biomassa, bahan organik mati, dan karbon tanah pada mangrove.
Coastal Blue Carbon Manual juga dikembangkan khusus untuk membantu pengukuran stok karbon dan faktor emisi pada mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun menggunakan prosedur lapangan dan analisis yang sesuai dengan karakter ekosistem pesisir.
Karena itu, laporan “stok karbon mangrove” harus menjelaskan carbon pool mana yang dimasukkan dalam perhitungan.
Kedalaman Tanah Sangat Memengaruhi Angka Stok Karbon
Jika karbon tanah dihitung, kedalaman pengukuran menjadi bagian penting dari informasi metodologi. Mengukur karbon tanah hingga 30 cm tentu tidak menghasilkan nilai stok yang dapat langsung dibandingkan dengan penelitian yang mengukur hingga 1 meter atau lebih dalam.
Hal ini sangat relevan pada mangrove karena tanah dapat menyimpan proporsi besar dari total karbon ekosistem. Studi Donato et al. menemukan tanah kaya bahan organik dengan kedalaman mulai sekitar setengah meter hingga lebih dari tiga meter pada lokasi-lokasi yang mereka teliti.
Karena itu, dua angka stok karbon tidak boleh dibandingkan hanya berdasarkan satuannya. Pembaca juga perlu mengetahui kedalaman tanah, jumlah pool, metode sampling, tahun pengukuran, dan batas area.
Luas Area Juga Harus Dibedakan dari Kepadatan Karbon
Angka stok sering ditampilkan dalam ton C per hektare. Ini disebut kepadatan stok karbon. Untuk mendapatkan stok total kawasan, kepadatan tersebut perlu dikaitkan dengan luas.
Sebagai contoh sederhana:
Kepadatan stok = 500 tC/ha
Luas = 10 ha
Jika nilai 500 tC/ha memang representatif untuk seluruh area yang dihitung, stok total secara sederhana adalah:
5.000 tC
Namun, dalam praktik nyata kawasan mangrove dapat memiliki variasi spasial yang besar. Stratifikasi dan desain sampling diperlukan agar nilai per hektare tidak diterapkan secara sembarangan ke seluruh area. IPCC mendorong penggunaan data yang semakin spesifik dan pengukuran lapangan atau inventaris yang lebih terperinci pada pendekatan tier yang lebih tinggi.
Mengapa Baseline Penting untuk Menghitung Serapan?
Untuk membuktikan perubahan stok, perlu diketahui kondisi pembanding. Baseline karbon memberikan titik awal sehingga kondisi pada periode berikutnya dapat dibandingkan dengan dasar yang konsisten.
Tanpa baseline, mengetahui stok saat ini sebesar 600 tC/ha belum menjelaskan apakah kawasan tersebut bertambah dari 550 tC/ha, tetap sekitar 600 tC/ha, atau justru menurun dari 700 tC/ha.
Metode Stock-Difference pada dasarnya menggunakan perbedaan stok pada dua waktu untuk mengestimasi perubahan, sedangkan pendekatan Gain-Loss memperkirakan penambahan dan kehilangan karbon dalam periode tertentu. IPCC mengakui kedua pendekatan tersebut dalam penghitungan perubahan stok karbon biomassa.
Inilah mengapa serapan membutuhkan dimensi waktu, sedangkan stok tidak selalu memerlukannya.
Serapan Karbon Tidak Bisa Diambil dari Stok dengan Membaginya Sembarangan
Misalnya sebuah hutan mangrove memiliki stok karbon 600 tC/ha dan diperkirakan berumur 30 tahun. Membagi:
600 ÷ 30 = 20 tC/ha/tahun
lalu menyebut hasilnya sebagai serapan tahunan aktual merupakan pendekatan yang terlalu sederhana.
Stok saat ini dapat berasal dari proses yang berlangsung sebelum periode tersebut, karbon tanah yang jauh lebih tua, karbon yang berasal dari berbagai sumber, serta dinamika kehilangan dan akumulasi yang tidak linear. Laju peningkatan stok juga dapat berubah selama perkembangan ekosistem. IPCC menggunakan metodologi khusus untuk perubahan stok dan tidak mendefinisikan laju tahunan sekadar dengan membagi stok total dengan umur tegakan.
Karena itu, stok karbon tidak boleh langsung dibagi umur pohon untuk menghasilkan angka serapan tahunan tanpa metodologi yang dapat membenarkan pendekatan tersebut.
Stok Karbon Juga Dapat Berkurang
Gudang karbon mangrove bukan sesuatu yang otomatis permanen. Jika ekosistem dikonversi, vegetasi ditebang, tanah digali atau dikeringkan, stok karbon dapat menurun dan sebagian karbon dapat dilepaskan sebagai emisi.
IPCC Wetlands Supplement secara khusus memberikan metodologi untuk memperkirakan perubahan stok dan emisi akibat aktivitas seperti ekstraksi, pembangunan tambak, drainase, serta pembasahan kembali. Pada konversi tertentu, perubahan biomassa, bahan organik mati, dan karbon tanah perlu diperhitungkan.
Hal ini menjelaskan mengapa perlindungan mangrove yang memiliki stok karbon tinggi memiliki logika iklim yang berbeda dari penanaman baru. Restorasi dapat meningkatkan stok karbon, sedangkan perlindungan dapat mencegah stok yang sudah ada mengalami kehilangan dan menghasilkan emisi.
Kedua manfaat tersebut penting, tetapi tidak boleh dilaporkan sebagai hal yang sama.
Stok Karbon, Serapan Karbon, dan Emisi yang Dihindari Berbeda
Dalam program iklim mangrove setidaknya terdapat tiga konsep yang perlu dipisahkan.
Stok karbon menjelaskan berapa karbon yang tersimpan.
Serapan atau peningkatan stok menjelaskan karbon tambahan yang terakumulasi selama waktu tertentu.
Emisi yang dihindari berkaitan dengan emisi yang diperkirakan akan terjadi pada skenario tertentu tetapi dapat dicegah karena adanya intervensi.
Jika kawasan mangrove dewasa dilindungi dari konversi, manfaat utamanya tidak harus berasal dari pertumbuhan pohon yang sangat cepat. Nilai iklimnya dapat berkaitan dengan mempertahankan stok yang besar dan mencegah emisi yang dapat terjadi apabila ekosistem mengalami degradasi. Kerangka IPCC untuk lahan basah pesisir memperlihatkan bahwa perubahan pengelolaan dan konversi dapat menyebabkan perubahan stok maupun emisi yang perlu dihitung sesuai aktivitasnya.
Perbedaan ini sangat penting dalam menyusun program konservasi dan restorasi.
Stok dan Serapan Karbon Tidak Otomatis Menjadi Kredit Karbon
Mengukur bahwa lokasi memiliki stok sebesar 500 tC/ha tidak berarti lokasi tersebut memiliki 500 ton kredit karbon per hektare. Demikian pula, mengetahui bahwa stok meningkat tidak otomatis membuat seluruh peningkatan tersebut dapat diterbitkan sebagai kredit.
Kredit karbon membutuhkan kerangka metodologis tambahan yang menentukan baseline scenario, additionality, batas proyek, sumber emisi, kebocoran, ketidakpastian, risiko nonpermanensi, monitoring, serta proses validasi dan verifikasi sesuai standar atau mekanisme yang digunakan. Dengan kata lain, pengukuran stok merupakan input penting, tetapi bukan keseluruhan proses akuntansi proyek karbon.
Panduan IPCC sendiri ditujukan untuk estimasi dan pelaporan emisi serta removals dalam inventaris gas rumah kaca, bukan untuk otomatis menerbitkan kredit karbon dari setiap stok yang ditemukan di lapangan.
Karena itu:
stok karbon ≠ serapan tahunan ≠ kredit karbon.
Ketiganya saling berkaitan, tetapi secara metodologis berbeda.
Mengapa Perbedaan Ini Penting untuk ESG Perusahaan?
Perusahaan dapat dengan mudah salah mengkomunikasikan manfaat program mangrove apabila stok dan serapan dicampur.
Misalnya sebuah laporan menyebut:
“Kawasan ini memiliki stok 10.000 ton CO₂ sehingga program telah menyerap 10.000 ton CO₂ tahun ini.”
Pernyataan tersebut belum tentu benar. Stok tersebut mungkin telah tersimpan jauh sebelum program dimulai. Untuk mengklaim perubahan selama periode program, perusahaan memerlukan data awal, data monitoring, metodologi yang konsisten, dan batas klaim yang jelas.
Hal yang lebih tepat adalah membedakan:
stok karbon eksisting;
perubahan stok selama periode program;
estimasi removal atau emisi yang dihindari jika dihitung;
dan kredit karbon apabila memang sudah memenuhi mekanisme yang relevan.
Pemisahan tersebut membuat data karbon lebih transparan dan mencegah klaim iklim yang melebihi bukti pengukurannya.
Bagaimana Data Stok Karbon Mangrove Dikumpulkan?
Pada survei lapangan, biomassa mangrove dapat diperkirakan melalui pengukuran parameter pohon dan persamaan alometrik yang sesuai. IPCC mencantumkan penggunaan persamaan alometrik sebagai salah satu pendekatan tingkat lebih tinggi untuk mengestimasi biomassa mangrove di atas permukaan tanah.
Biomassa bawah tanah dapat diperkirakan menggunakan metode yang sesuai, sementara stok karbon tanah membutuhkan informasi seperti kedalaman, bulk density, dan konsentrasi karbon pada sampel tanah. Coastal Blue Carbon Manual menyediakan prosedur khusus untuk desain pengukuran dan penilaian stok karbon pada ekosistem mangrove serta ekosistem karbon biru lainnya.
Hasil akhir sebaiknya tidak hanya berupa satu angka. Data perlu disertai koordinat, luas, strata, jumlah plot, metode, persamaan yang digunakan, kedalaman tanah, laboratorium atau metode analisis, tahun survei, serta ketidakpastian sesuai tingkat kajian.
Bagaimana Data Serapan Karbon Mangrove Diperoleh?
Serapan dapat diestimasi melalui beberapa pendekatan, tergantung tujuan dan metodologi. Salah satunya adalah membandingkan stok karbon secara konsisten pada periode berbeda. Pendekatan lain dapat menggunakan perubahan biomassa, pertumbuhan, akumulasi karbon tanah, model, atau faktor yang telah dikembangkan dan divalidasi untuk konteks tertentu.
IPCC menyediakan pendekatan Gain-Loss dan Stock-Difference untuk perubahan stok karbon. Pada Stock-Difference, perbedaan stok antarperiode menjadi dasar estimasi perubahan. Pada Gain-Loss, penambahan karbon dibandingkan dengan kehilangan karbon selama periode tertentu.
Karena itu, sebuah angka serapan seharusnya selalu memiliki keterangan:
periode berapa lama;
carbon pool apa saja yang dihitung;
metode apa yang digunakan;
luas berapa;
apakah angka dinyatakan dalam C, CO₂, atau CO₂e;
dan tingkat ketidakpastiannya seperti apa.
Tanpa informasi tersebut, angka serapan sulit dibandingkan dengan hasil lain.
Jangan Menggunakan Satu Angka Serapan untuk Semua Lokasi Mangrove
Laju akumulasi karbon tidak sama pada setiap kawasan. Kondisi iklim, geomorfologi, hidrologi, salinitas, sedimen, umur tegakan, jenis intervensi, dan sejarah penggunaan lahan dapat menghasilkan perbedaan besar.
IPCC AR6 mencatat hasil sintesis penelitian restorasi mangrove yang menunjukkan perubahan laju sekuestrasi selama perkembangan restorasi serta ketergantungan hasil pada kondisi lingkungan dan metode restorasi. Penelitian global berbasis ratusan lokasi restorasi juga menemukan bahwa potensi penyimpanan karbon berbeda antara reforestation pada lokasi yang sebelumnya memiliki mangrove dan afforestation pada lokasi yang sebelumnya bukan mangrove.
Karena itu, mengambil satu nilai literatur kemudian mengalikannya dengan seluruh luas proyek dapat berguna sebagai estimasi awal dalam konteks tertentu, tetapi tidak otomatis memiliki tingkat kepastian yang sama dengan hasil pengukuran dan monitoring spesifik lokasi.
Cara Cepat Membedakan Stok dan Serapan Karbon
Ketika membaca laporan karbon mangrove, lihat satuannya terlebih dahulu.
Jika tertulis:
tC/ha atau Mg C/ha
kemungkinan besar yang sedang dibahas adalah kepadatan stok karbon.
Jika tertulis:
tC/ha/tahun
maka terdapat dimensi waktu dan kemungkinan yang dibahas adalah laju perubahan atau akumulasi karbon.
Jika tertulis:
tCO₂/ha/tahun atau tCO₂e/ha/tahun
periksa bagaimana karbon dikonversi dan gas apa saja yang dihitung.
Kemudian periksa empat hal: tahun pengukuran, carbon pool, metode, dan luas area. Tanpa keempat informasi tersebut, angka yang terlihat meyakinkan dapat memiliki arti yang sangat berbeda.
Stok Karbon Adalah Kondisi, Serapan Karbon Adalah Perubahan
Stok karbon mangrove menjelaskan berapa banyak karbon yang tersimpan di dalam ekosistem pada suatu waktu, sedangkan serapan karbon mangrove menjelaskan proses atau perubahan yang menambah penyimpanan karbon selama periode tertentu. Keduanya merupakan informasi penting, tetapi tidak dapat digunakan secara bergantian.
Stok membutuhkan definisi carbon pool, area, kedalaman, serta metode pengukuran yang jelas. Serapan membutuhkan tambahan dimensi waktu dan metode yang mampu menunjukkan perubahan stok atau aliran karbon. IPCC membedakan kedua konsep ini melalui sistem penghitungan stok dan perubahan stok dalam biomassa, bahan organik mati, dan tanah.
Pemahaman tersebut juga menghasilkan satu prinsip penting untuk program iklim mangrove:
stok karbon ≠ serapan karbon ≠ emisi yang dihindari ≠ kredit karbon.
Menghubungkan keempatnya membutuhkan metodologi, baseline, monitoring, dan batas klaim yang jelas. Dengan membedakan konsep tersebut sejak awal, data karbon mangrove dapat digunakan secara jauh lebih akurat untuk penelitian, rehabilitasi, konservasi, ESG, perencanaan iklim, maupun pengembangan program karbon. (ADM).
Daftar Pustaka
Donato, D. C., Kauffman, J. B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., Stidham, M., & Kanninen, M. (2011). Mangroves among the Most Carbon-rich Forests in the Tropics. Nature Geoscience, 4, 293–297.
Howard, J., Hoyt, S., Isensee, K., Pidgeon, E., & Telszewski, M. (eds.). (2014). Coastal Blue Carbon: Methods for Assessing Carbon Stocks and Emissions Factors in Mangroves, Tidal Salt Marshes, and Seagrass Meadows. Conservation International, Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO, International Union for Conservation of Nature.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2013). 2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands — Chapter 4: Coastal Wetlands. IPCC.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2022). Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change — Chapter 7: Agriculture, Forestry and Other Land Uses. Working Group III contribution to the Sixth Assessment Report.
Song, S., Ding, Y., Li, W., Meng, Y., Zhou, J., Gou, R., Zhang, C., Ye, S., Saintilan, N., Krauss, K. W., Crooks, S., Lv, S., & Lin, G. (2023). Mangrove Reforestation Provides Greater Blue Carbon Benefit than Afforestation for Mitigating Global Climate Change. Nature Communications, 14.



