Data rehabilitasi mangrove untuk menilai kelayakan lokasi

Data Apa Saja yang Dibutuhkan untuk Menilai Lokasi Rehabilitasi Mangrove?

Semarang – Mangrove Data. Data rehabilitasi mangrove merupakan informasi penting untuk menilai kelayakan lokasi, memahami kondisi ekosistem, dan menentukan bentuk intervensi yang paling sesuai. Penilaian rehabilitasi tidak cukup hanya melihat ketersediaan lahan atau kawasan pesisir yang tampak kosong. Hidrologi, salinitas, elevasi, substrat, vegetasi, regenerasi alami, penggunaan lahan, status pengelolaan, dan kondisi sosial perlu dianalisis secara bersama agar rehabilitasi benar-benar menjawab penyebab degradasi.

Karena itu, asesmen lokasi seharusnya dilakukan sebelum menentukan jumlah bibit, jenis tanaman, ataupun target luas penanaman. Panduan restorasi mangrove FAO untuk Asia Tenggara menempatkan pemahaman ekologi spesies, pola hidrologi normal, perubahan lingkungan yang menghambat regenerasi, dan potensi pemulihan hidrologi sebagai langkah yang perlu dilakukan sebelum memutuskan bahwa penanaman memang dibutuhkan. Pendekatan ini mengubah rehabilitasi dari kegiatan yang berorientasi pada jumlah tanaman menjadi proses pemulihan ekosistem berbasis diagnosis lokasi.

Data Rehabilitasi Mangrove Apa Saja yang Dibutuhkan?

Data rehabilitasi mangrove dapat mencakup informasi spasial, sejarah kawasan, hidrologi, elevasi, salinitas, substrat, vegetasi, regenerasi, sumber propagul, biodiversitas, penggunaan lahan, status pengelolaan, tekanan lingkungan, serta kondisi sosial masyarakat.

Sebelum mengukur banyak parameter, pertanyaan pertama adalah mengapa mangrove tidak tumbuh atau mengapa mangrove sebelumnya hilang dari lokasi tersebut? Jawabannya dapat berbeda antara kawasan yang pernah dikonversi menjadi tambak, mengalami gangguan hidrologi, terkena abrasi, kehilangan suplai sedimen, mengalami penebangan, atau memang secara alami merupakan habitat terbuka yang tidak pernah ditumbuhi mangrove.

Riwayat lokasi membantu membedakan antara area yang membutuhkan restorasi dengan area yang sebenarnya tidak perlu diubah. FAO mencatat bahwa mangrove dapat beregenerasi secara alami ketika hidrologi pasang surut masih berfungsi dan pasokan propagul dari tegakan di sekitarnya tersedia. Sebaliknya, ketika perubahan lingkungan menghambat suksesi alami, intervensi perlu diarahkan pada faktor penghambat tersebut terlebih dahulu.

Data sejarah dapat diperoleh melalui citra satelit multitemporal, peta penggunaan lahan, laporan terdahulu, dokumentasi, serta wawancara dengan masyarakat yang mengetahui perubahan kawasan. Mengetahui sejarah lokasi sering kali sama pentingnya dengan mengetahui kondisi lokasi hari ini, karena rehabilitasi bertujuan memulihkan proses yang hilang, bukan sekadar menambah vegetasi.

Data Spasial dan Batas Lokasi

Asesmen memerlukan batas kawasan yang jelas. Data spasial digunakan untuk mengetahui posisi, luas, bentuk area, hubungan dengan garis pantai, sungai, tambak, permukiman, infrastruktur, dan tutupan mangrove di sekitarnya. Tanpa batas spasial yang konsisten, perhitungan luas, desain survei, analisis perubahan, hingga monitoring berikutnya dapat menggunakan area referensi yang berbeda.

Citra satelit, drone, peta dasar, dan pengamatan koordinat lapangan dapat digunakan secara bersama-sama untuk membangun gambaran kawasan. FAO mencatat bahwa ketersediaan citra satelit resolusi tinggi dan teknologi penginderaan jauh semakin mendukung pemantauan restorasi serta perlindungan mangrove. Namun, data spasial tetap perlu diverifikasi dengan kondisi lapangan karena objek yang terlihat serupa dari udara belum tentu memiliki karakter ekologis atau penggunaan lahan yang sama.

Dalam praktiknya, data spasial setidaknya perlu menjelaskan batas calon area, koordinat titik survei, tutupan lahan, jaringan hidrologi, akses, vegetasi eksisting, serta hubungan kawasan dengan sistem pesisir di sekitarnya. Data tersebut kemudian menjadi kerangka untuk mengintegrasikan seluruh pengamatan lainnya.

Data Hidrologi: Fondasi Penting Rehabilitasi Mangrove

Jika harus memilih salah satu kelompok data yang paling sering menentukan keberhasilan pemulihan mangrove, hidrologi merupakan salah satu yang paling penting. Mangrove hidup pada wilayah yang dipengaruhi pasang surut, sehingga frekuensi, kedalaman, durasi, dan jalur masuk-keluarnya air berpengaruh besar terhadap distribusi dan perkembangan vegetasi.

Panduan FAO menempatkan pemahaman pola hidrologi yang mengendalikan distribusi, pembentukan semai, dan pertumbuhan spesies sebagai salah satu langkah kritis restorasi. Jika hidrologi telah berubah, program dianjurkan terlebih dahulu mempertimbangkan pemulihan kondisi tersebut sebelum mengandalkan penanaman. FAO juga menunjukkan bahwa rehabilitasi sering terhambat karena spesies ditempatkan pada kondisi hidrologi yang tidak sesuai.

Data hidrologi dapat mencakup frekuensi genangan, durasi genangan, kedalaman air, jalur pasang surut, kondisi saluran, keberadaan tanggul atau pintu air, arah aliran, serta konektivitas lokasi terhadap laut atau sungai. Untuk tambak terbengkalai, perhatian khusus perlu diberikan pada struktur lama yang mungkin masih membatasi pertukaran air.

Elevasi dan Posisi terhadap Pasang Surut

Perbedaan elevasi yang relatif kecil dapat menghasilkan pola genangan yang sangat berbeda pada kawasan intertidal. Karena itu, informasi mengenai ketinggian permukaan lahan terhadap rezim pasang surut dapat menjadi sangat penting ketika mengevaluasi apakah suatu lokasi sesuai untuk regenerasi atau penanaman spesies tertentu.

Data elevasi dapat diperoleh dengan tingkat ketelitian berbeda sesuai kebutuhan, mulai dari model elevasi, pengukuran GNSS, hingga survei topografi yang lebih rinci. Yang paling penting bukan sekadar mengetahui angka elevasi absolut, tetapi memahami hubungan posisi tersebut dengan berapa sering dan berapa lama lokasi tergenang.

Pendekatan ini membantu menghindari kesalahan ketika sebuah area terlihat seperti mudflat yang cocok untuk mangrove, padahal berada terlalu rendah dan mengalami genangan terlalu lama. Sebaliknya, kawasan yang terlalu tinggi dapat memiliki konektivitas pasang surut yang terbatas. Keragaman kondisi hidrologi dan geomorfologi inilah yang membuat FAO menekankan bahwa karakter mangrove tidak mudah digeneralisasi antar lokasi.

Salinitas dan Kualitas Lingkungan

Salinitas perlu diukur karena menggambarkan salah satu karakter lingkungan yang memengaruhi distribusi dan respons mangrove. Nilainya dapat berubah akibat pasang surut, curah hujan, aliran air tawar, evaporasi, dan perubahan sistem hidrologi. Namun, salinitas tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menyatakan bahwa suatu lokasi sesuai atau tidak sesuai.

Mangrove berkembang pada kondisi salinitas, kedalaman air, dan aliran yang sangat bervariasi, sementara substratnya juga dapat berkisar dari material kasar hingga lumpur dan lempung kaya bahan organik. Karena itu, salinitas perlu dibaca bersama kondisi hidrologi, vegetasi alami, serta karakter spesies lokal.

Parameter lingkungan lainnya dapat mencakup pH air, pH tanah, suhu, oksigen terlarut bila relevan, serta parameter kualitas air lain sesuai pertanyaan asesmen. Jumlah parameter tidak perlu dibuat sebanyak mungkin; yang penting adalah setiap parameter memiliki fungsi jelas dalam menjelaskan kondisi atau risiko lokasi.

Data Substrat dan Kondisi Tanah

Mangrove membutuhkan substrat yang mendukung perkembangan akar, tetapi karakter substrat sangat bervariasi antar ekosistem. FAO mencatat bahwa mangrove dapat tumbuh pada berbagai kondisi mulai dari pecahan karang hingga lumpur dan lempung dalam yang kaya bahan organik. Karena itu, istilah “tanah berlumpur” saja tidak cukup untuk menyimpulkan kesesuaian lokasi.

Asesmen dapat mencatat tekstur substrat, tingkat konsolidasi, kandungan bahan organik bila diperlukan, kondisi erosi atau sedimentasi, serta indikasi tanah bermasalah. Pada lahan yang sebelumnya dikeringkan, kondisi tanah tertentu seperti acid sulphate soil dapat menjadi kendala rehabilitasi; FAO secara khusus menyebut kondisi tanah buruk termasuk tanah sulfat masam sebagai salah satu faktor yang dapat menghambat rehabilitasi.

Informasi substrat juga perlu dikaitkan dengan dinamika sedimen. Area yang terus mengalami erosi memiliki persoalan berbeda dengan area yang sedang mengalami akresi atau sedimentasi aktif. Menanam tanpa memahami stabilitas substrat dapat membuat bibit hilang sebelum proses perakaran berkembang dengan baik.

Vegetasi Mangrove yang Sudah Ada

Keberadaan vegetasi eksisting memberikan banyak informasi mengenai kondisi habitat. Survei perlu mencatat spesies yang ditemukan, struktur tegakan, regenerasi alami, kondisi semai dan pancang, tingkat tutupan, serta pola persebarannya. Vegetasi alami dapat berfungsi sebagai indikator biologis mengenai spesies yang mampu tumbuh pada kondisi lokal.

Informasi regenerasi sangat penting. Panduan FAO menunjukkan bahwa penanaman baru sebaiknya dilakukan setelah dinilai bahwa regenerasi alami tidak mampu menyediakan jumlah atau laju pembentukan tanaman yang sesuai dengan tujuan restorasi. Dalam salah satu contoh yang disajikan FAO dari Indonesia, sebagian besar area yang dinilai telah memiliki regenerasi cukup sehingga hanya bagian kecil yang membutuhkan penanaman tambahan.

Temuan seperti ini menegaskan bahwa area tanpa pohon dewasa tidak otomatis berarti area tanpa proses pemulihan alami. Bibit dan propagul yang mulai terbentuk bisa menunjukkan bahwa intervensi terbaik justru melindungi proses regenerasi tersebut.

Ketersediaan Propagul dan Sumber Benih

Pemulihan alami sangat bergantung pada apakah propagul dapat mencapai lokasi dan berhasil menetap. Karena itu, asesmen perlu melihat keberadaan tegakan mangrove sumber benih di sekitar kawasan, pola arus yang membawa propagul, musim reproduksi, serta keberadaan semai alami.

FAO memasukkan pemahaman pola reproduksi, distribusi propagul, dan keberhasilan pembentukan semai sebagai salah satu langkah dasar sebelum restorasi dilakukan. Jika hidrologi sudah mendukung dan sumber propagul masih tersedia, regenerasi alami dapat menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan penanaman intensif.

Sebaliknya, jika habitat secara ekologis sesuai tetapi pasokan propagul telah terputus, penanaman atau pengayaan dapat menjadi intervensi yang lebih masuk akal. Dengan demikian, keputusan menanam seharusnya lahir dari diagnosis keterbatasan regenerasi, bukan menjadi asumsi awal seluruh program.

Kondisi Gelombang, Abrasi, dan Sedimentasi

Lokasi di pesisir terbuka dapat mengalami energi gelombang dan arus yang terlalu tinggi untuk pembentukan mangrove muda. Bibit yang ditanam pada kondisi tersebut dapat tercabut atau tertimbun, sedangkan perubahan garis pantai dapat membuat area target terus bergerak.

Asesmen perlu mencatat indikasi abrasi, akresi, sedimentasi, tinggi dan karakter gelombang secara relevan, perlindungan alami lokasi, serta perubahan garis pantai dari waktu ke waktu. Data multitemporal sangat berguna untuk membedakan kondisi sesaat dengan tren jangka panjang.

FAO menjelaskan bahwa kondisi geomorfologi mangrove sangat beragam dan bahwa pada beberapa lokasi gelombang dapat terus menghilangkan sedimen halus, sementara pada lokasi lain pasokan sedimen sungai mendukung kawasan mangrove yang luas dan produktif. Perbedaan ini membuat pendekatan rehabilitasi tidak dapat diseragamkan.

Data Biodiversitas dan Fungsi Ekosistem

Tujuan rehabilitasi seharusnya tidak berhenti pada pembentukan tegakan pohon. Mangrove merupakan habitat bagi ikan, udang, moluska, burung, serta berbagai biota lain, dan berfungsi sebagai kawasan pemijahan, pembesaran, perlindungan pesisir, serta perangkap sedimen. Karena itu, informasi biodiversitas dapat memberikan gambaran mengenai fungsi ekologis kawasan sebelum dan sesudah intervensi.

Tidak semua asesmen memerlukan inventarisasi biodiversitas yang sangat rinci. Tingkat pengumpulan data harus disesuaikan dengan tujuan program. Namun, keberadaan spesies kunci, habitat penting, jalur penggunaan fauna, atau fungsi perikanan lokal sebaiknya tidak diabaikan apabila rehabilitasi berpotensi mengubah kondisi tersebut.

Pendekatan ini juga mencegah rehabilitasi dipersempit menjadi kegiatan kehutanan semata. FAO secara eksplisit mengingatkan bahwa fokus yang berlebihan pada pohon dapat mengabaikan organisme lain yang merupakan bagian dari ekosistem mangrove.

Penggunaan Lahan dan Aktivitas Manusia

Data ekologis yang baik belum cukup jika kawasan memiliki konflik penggunaan lahan. Calon lokasi mungkin digunakan sebagai tambak aktif, jalur perahu, tempat mencari kerang, area penangkapan ikan, lokasi wisata, akses masyarakat, permukiman, atau memiliki rencana pengembangan lainnya.

Karena itu, asesmen perlu memetakan penggunaan lahan aktual, pengguna kawasan, aktivitas ekonomi, ketergantungan masyarakat, serta potensi perubahan penggunaan di masa depan. UNEP menekankan bahwa restorasi mangrove perlu dilakukan melalui penilaian yang spesifik terhadap lokasi dan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan situasi setempat, bukan menerapkan satu metode secara seragam.

Data sosial tidak hanya berfungsi untuk “memperoleh dukungan masyarakat”. Informasi tersebut membantu memahami apakah desain rehabilitasi dapat bertahan dalam jangka panjang dan apakah intervensi berpotensi mengganggu fungsi sosial-ekonomi yang sudah berlangsung.

Status Lahan, Penguasaan, dan Tata Kelola

Sebuah area dapat terlihat sangat sesuai secara ekologis tetapi sulit direhabilitasi apabila status penguasaan dan pengelolaannya tidak jelas. Karena itu, perlu diketahui siapa pemilik, pengelola, pengguna, atau pihak yang memiliki kewenangan terhadap kawasan, serta apakah terdapat izin, hak, peraturan, atau rencana tata ruang yang memengaruhi pelaksanaan program.

Aspek ini penting terutama pada tambak, tanah timbul, kawasan pesisir dengan batas dinamis, atau area yang dikelola oleh beberapa pihak sekaligus. Ketidakjelasan hak dan tanggung jawab dapat memunculkan konflik setelah penanaman dilakukan, bahkan ketika kegiatan awal mendapatkan persetujuan informal.

FAO menekankan bahwa mangrove memiliki penggunaan dan nilai yang beragam bagi manusia dan bahwa pengelolaan yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan partisipatif serta pertimbangan terhadap kepentingan berbagai pihak. Dengan demikian, kelayakan sosial dan tata kelola merupakan bagian dari kelayakan lokasi, bukan isu yang berdiri terpisah dari aspek teknis.

Identifikasi Tekanan dan Risiko yang Masih Berlangsung

Rehabilitasi sulit berhasil apabila penyebab degradasi masih berlangsung. Karena itu, asesmen harus mengidentifikasi tekanan aktif seperti penebangan, gangguan hidrologi, pencemaran, sampah, aktivitas tambak, abrasi, pembangunan, lalu lintas perahu, ternak, atau bentuk gangguan lain yang relevan.

Jika penyebab kerusakan tidak dihentikan, penanaman hanya menambahkan tanaman baru ke dalam sistem yang masih rusak. Prinsip restorasi FAO menekankan perlunya menilai perubahan lingkungan yang saat ini menghambat suksesi alami sebelum mendesain intervensi pemulihan.

Data risiko juga sebaiknya memperhitungkan faktor jangka panjang seperti kenaikan muka laut, keterbatasan ruang migrasi mangrove, perubahan suplai sedimen, dan infrastruktur pesisir. FAO mencatat bahwa kemampuan mangrove mengikuti kenaikan muka laut dapat terganggu ketika suplai sedimen terhambat atau migrasi ke daratan dibatasi oleh infrastruktur.

Data Sosial dan Persepsi Masyarakat

Masyarakat yang hidup di sekitar lokasi sering memiliki pengetahuan mengenai sejarah kawasan, pola pasang surut, kejadian abrasi, perubahan saluran, lokasi mangrove lama, musim propagul, hingga alasan mengapa kegiatan penanaman sebelumnya berhasil atau gagal. Informasi tersebut dapat memberikan konteks yang tidak selalu terlihat dari citra maupun survei singkat.

Asesmen sosial dapat mencakup persepsi terhadap rehabilitasi, kepentingan penggunaan lahan, kesediaan terlibat, potensi konflik, pengetahuan lokal, serta kekhawatiran terhadap perubahan fungsi kawasan. Data semacam ini penting agar desain tidak hanya tepat secara ekologis tetapi juga realistis secara sosial.

FAO menekankan bahwa masih terdapat banyak pengetahuan lokal dan tradisional mengenai pengelolaan mangrove yang dapat dimanfaatkan. Dengan demikian, masyarakat tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai tenaga penanam, tetapi sebagai sumber informasi dan pihak yang berkepentingan terhadap keberlanjutan kawasan.

Aksesibilitas dan Kelayakan Operasional

Akses memang bukan faktor ekologis utama, tetapi tetap berpengaruh terhadap implementasi dan monitoring. Lokasi yang hanya dapat dicapai pada kondisi pasang tertentu, membutuhkan perjalanan perahu panjang, atau memiliki risiko keselamatan tinggi akan membutuhkan rancangan operasional berbeda.

Data operasional dapat mencakup akses darat atau air, waktu tempuh, kondisi pasang yang memungkinkan masuk, lokasi pembibitan atau sumber material, keselamatan tim, serta kemungkinan melakukan monitoring secara berulang. Hal ini penting karena rehabilitasi tidak selesai pada hari penanaman.

Namun, aksesibilitas tidak boleh menjadi alasan untuk memilih lokasi yang mudah tetapi tidak sesuai secara ekologis. Urutannya harus tetap: layak secara ekologis dan sosial terlebih dahulu, kemudian ditentukan bagaimana program dapat dilaksanakan secara aman dan efisien.

Bandingkan dengan Ekosistem Referensi

Salah satu cara memperkuat asesmen adalah membandingkan lokasi target dengan kawasan mangrove yang masih berfungsi dan memiliki kondisi geomorfologi serupa. Ekosistem referensi dapat memberikan informasi mengenai spesies alami, struktur vegetasi, pola genangan, salinitas, substrat, elevasi, dan proses regenerasi yang mungkin menjadi gambaran kondisi yang hendak dipulihkan.

Perbandingan tersebut lebih berguna daripada menggunakan standar generik dari lokasi yang sangat berbeda. UNEP menekankan pentingnya penilaian objektif yang spesifik terhadap lokasi agar metode restorasi dapat disesuaikan dengan keadaan masing-masing kawasan.

Referensi bukan berarti lokasi target harus dibuat identik. Tujuannya adalah memperoleh arah ekologis yang realistis mengenai proses dan kondisi yang dapat mendukung pemulihan.

Data Harus Menghasilkan Diagnosis, Bukan Sekadar Tabel

Setelah data dikumpulkan, tahap terpenting adalah menghubungkan temuan tersebut. Salinitas tinggi mungkin berkaitan dengan hambatan drainase. Tidak adanya regenerasi dapat berasal dari hilangnya sumber propagul atau genangan yang tidak sesuai. Kematian tanaman sebelumnya dapat berkaitan dengan abrasi, bukan kualitas bibit.

Karena itu, laporan asesmen sebaiknya tidak berhenti pada tabel parameter. Hasilnya perlu menghasilkan diagnosis mengenai kondisi ekosistem, faktor pembatas, risiko, potensi regenerasi, dan pilihan intervensi.

Dari diagnosis tersebut, rekomendasi dapat berbeda antar lokasi: perlindungan tanpa penanaman, regenerasi alami yang dibantu, perbaikan hidrologi, pengayaan vegetasi, penanaman terbatas, rehabilitasi tambak, atau bahkan keputusan untuk tidak melakukan rehabilitasi pada area tertentu. FAO menggambarkan restorasi sebagai spektrum intervensi, mulai dari menghentikan tekanan agar regenerasi berlangsung alami hingga rekayasa hidrologi dan penanaman ketika memang diperlukan.

Lokasi Layak Rehabilitasi Tidak Selalu Berarti Harus Ditanami

Ini merupakan kesimpulan yang sangat penting. Kelayakan rehabilitasi tidak identik dengan kelayakan penanaman. Sebuah lokasi dapat layak dipulihkan tetapi tindakan terbaiknya adalah membuka kembali aliran pasang surut, menghilangkan tekanan, atau membiarkan regenerasi alami berlangsung.

Panduan FAO untuk Asia Tenggara menyarankan penanaman hanya setelah ekologi spesies, pola hidrologi, hambatan regenerasi, dan kemungkinan pemulihan kondisi alami telah dianalisis, serta setelah dinilai bahwa rekrutmen alami tidak dapat memenuhi tujuan restorasi. Prinsip ini merupakan pembeda penting antara rehabilitasi ekosistem dengan sekadar program penanaman.

Karena itu, indikator keberhasilan asesmen bukan berapa banyak hektare yang berhasil “ditemukan untuk ditanami”, melainkan seberapa baik asesmen mampu menentukan lokasi mana yang membutuhkan intervensi, faktor apa yang perlu diperbaiki, dan intervensi apa yang paling rasional.

Dari Data Lokasi Menuju Keputusan Rehabilitasi Mangrove

Data penilaian lokasi rehabilitasi mangrove sebaiknya mencakup kondisi spasial, riwayat kawasan, hidrologi, elevasi, salinitas, substrat, vegetasi, regenerasi, sumber propagul, dinamika pesisir, biodiversitas, penggunaan lahan, status pengelolaan, tekanan, aspek sosial, serta kelayakan operasional sesuai kebutuhan program. Tidak seluruh lokasi memerlukan tingkat detail yang sama, tetapi setiap parameter harus dipilih karena membantu menjawab pertanyaan tertentu mengenai kelayakan dan bentuk intervensi.

Data-data tersebut kemudian harus dibaca sebagai satu sistem. Mangrove bukan tanaman yang berdiri sendiri, melainkan ekosistem yang dipengaruhi oleh air, sedimen, pasang surut, bentang pesisir, spesies, dan manusia. Karena itu, satu indikator yang terlihat baik tidak dapat menutupi persoalan mendasar pada indikator lain.

Asesmen lokasi yang kuat pada akhirnya membantu mengubah pertanyaan dari “berapa bibit yang dapat ditanam di sini?” menjadi pertanyaan yang lebih tepat: “apa yang menghambat pemulihan mangrove di lokasi ini, apakah proses alami masih dapat bekerja, dan bentuk rehabilitasi apa yang paling sesuai?” Inilah fondasi keputusan rehabilitasi mangrove yang lebih terukur, adaptif, dan berbasis kondisi ekosistem. Penggunaan data rehabilitasi mangrove yang terintegrasi membantu menentukan apakah suatu lokasi membutuhkan penanaman, regenerasi alami, pemulihan hidrologi, perlindungan, atau bentuk intervensi lainnya. (ADM).

Daftar Pustaka

Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Mangrove Ecosystem Restoration and Management. Sustainable Forest Management Toolbox. Rome: FAO.

Giesen, W., Wulffraat, S., Zieren, M., & Scholten, L. (2007). Mangrove Guidebook for Southeast Asia. Bangkok: Food and Agriculture Organization of the United Nations Regional Office for Asia and the Pacific.

United Nations Environment Programme (UNEP) & Nairobi Convention. (2020). Guidelines on Mangrove Ecosystem Restoration for the Western Indian Ocean Region. Nairobi: UNEP.

Scroll to Top